Frekuensi Harapan
Yang dimaksud dengan frekuensi harapan dari suatu kejadian adalah
banyaknya kejadian yang terjadi dikalikan dengan peluang kejadian
tersebut. Sebagai contoh pada suatu percobaan A dilakukan sebanyak n
kali, maka frekuensi harapan dari kejadian tersebut dapat ditulis :
Fh = n x P(A)
contoh :
Dilakukan
percobaan pelemparan 3 buah mata uang logam sekaligus sebanyak 240
kali pelemparan, tentukan frekuensi harapan dari pelemparan tersebut
munculnya 2 gambar dan 1 angka?
Jawab :
S = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG} ⇒ n(S) = 8
A = {AGG, GAG, GGA} ⇒ n(A) = 3
P(A)= n(A) / n(S) = 3/8
Fh(A)= n x P(A)
Fh(A)=240 x 3/8 =90 kali.
Peluang Komplemen Suatu Kejadian
Peluang Komplemen dari suatu kejadian A ditulis P(AC) dimana
P(A)+P(AC)=1
↔ P(AC)= 1 – P(A)
Contoh :
Dari
pelemparan 3 buah mata uang logam yang dilakukan sekaligus, tentukan
peluang munculnya paling sedikit 1 angka dari pelemparan uang logam
tersebut?
Jawab :
Menggunakan cara biasa
S = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG}, sehingga n(S) = 8
Kita misalkan kejadian munculnya paling sedikit satu angka yaitu A.
A = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA}, maka n(A) = 7
P(A) =n(A)/n(S) =7/8
Menggunakan cara komplemen
S = {AAA, AAG, AGA, GAA, AGG, GAG, GGA, GGG}, maka n(S) = 8
Disini juga kita misalkan kejadian munculnya paling sedikit satu angka yaitu A.
AC = {GGG}, maka n(AC) =1
P(AC) = n(AC)/n(S) =1/8
P(A) = 1 – P(Ac) = 1 – 1/8 = 7/8
PELUANG KEJADIAN MAJEMUK
1. Peluang Gabungan Dua Kejadian
Jika diketahui A dan B merupakan dua kejadian yang berbeda sehingga peluang kejadian A ∪ B ditentukan menurut aturan :
P(A ∪ B) = P(A) + P(B) – P(A∩B)
contoh :
1.
Jika terdapat sebuah dadu yang akan dilambungkan sekali, jika
dimisalkan A adalah kejadain munculnya bilangan ganjil dan B adalah
kejadian munculnya bilangan prima. Maka tentukanlah peluang munculnya
bilangan prima atau bilangan ganjil!
Jawab :

S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}
A = bilangan ganjil yaitu {1, 3, 5} → P(A) = 3/6
B = bilangan prima yaitu {2, 3, 5} → P(B) =3/6
A∩B = {3, 5} → P{A∩B} = 2/6
P(A∪ B) = P(A) + P(B) – P(A∩B)
= 3/6 + 3/6 – 2/6 = 4/6 = 2/3
Maka peluang kejadian munculnya bilangan ganjil atau bilangan prima adalah 2/3
2.Jika
kita mempunyai 1 set kartu bridge, selanjutnya akan kita ambil sebuah
kartu dari 1 set kartu bridge tersebut. Tentukan peluang terambilnya
kartu as atau kartu hati dari proses pengambilan kartu tersebut!
Jawab :
n(S) = 52 (banyaknya kartu dalam 1 set kartu bridge adalah 52)
A = kartu As, n(A) = 4 (Banyaknya kartu As dalam1 set kartu bridge 4)
P(A) =4/52
B = kartu Hati, n(B) = 13 (Banyaknya kartu Hati dalam1 set kartu bridge 13)
P(B) = 13/52
n(A∩B) = 1 (Banyaknya Kartu As dan Hati dalam1 set kartu bridge 1)
P(A∩B) = 1/52
P(A∪ B) = P(A) + P(B) – P(A∩B) = 4/52 + 13/52 – 1/52 =16/52
Sehingga peluang kejadian terambilnya kartu As atau Hati adalah 16/52
2. Peluang Kejadian Saling Lepas / Kejadian Saling Asing
Jika
terdapat dua kejadian A dan B, kedua kejadian ini dikatakan saling
lepas jika kedua kejadian tersebut tidak mungkin terjadi bersama-sama.
Hal ini berarti A∩B = 0 atau P(A∩B) = 0. Maka dalam menghitung peluang
kejadian saling asing ini kita dapat gunakan aturan :
karena P (A∪ B) = P(A) + P(B) – P(A∩B) = P(A) + P(B) – 0
maka P (A∪ B) = P(A) + P(B)
contoh :
Jika
terdapat sebuah dadu dan akan kita lambungkan sekali, misalnya A
merupakan kejadian munculnya bilangan ganjil dan B merupakan kejadian
munculnya bilangan genap. Tentukan peluang kejadian dari munculnya
bilangan ganjil atau bilangan genap?
Jawab :

S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}
A = bilangan ganjil yaitu {1, 3, 5} → P(A) = 3/6
B = bilangan genap yaitu {2, 4, 6} → P(B) =3/6
A∩B = {} → P(A∩B) = 0 (A dan B kejadian saling lepas)
P(A∪ B) = P(A) + P(B)
= 3/6 + 3/6 = 1
Maka peluang kejadian munculnya bilangan ganjil atau bilangan genap adalah 1
3. Peluang Kejadian Saling Bebas
Jika
terdapat dua kejadian A dan B, dua kejadian ini dikatakan saling bebas
jika terjadinya kejadian A tidak mempengaruhi terjadinya kejadian B
begitu juga sebaliknya. Atau terjadi atau tidaknya kejadian A tidak
tergantung terjadi atau tidaknya kejadian B, begitu juga sebaliknya. Hal
ini seperti digambarkan pada peristiwa pelemparan dua buah dadu
sekaligus. Misalkan A merupakan kejadian munculnya dadu pertama angka 5
dan B merupakan kejadian munculnya dadu kedua angka 3. Sehingga kejadian
A dan kejadian B merupakan dua kejadian yang saling bebas, yang
dirumuskan sebagai berikut :
P(A∩B) = P(A) × P(B)
Perhatikan contoh berikut :
1.
Diketahui terdapat dua buah dadu yang akan dilempar secara bersamaan,
dari pelemparan tersebut tentukan peluang munculnya mata dadu 3 untuk
dadu pertama dan mata dadu 5 untuk dadu kedua?
jawab :
Kejadian
pada soal ini merupakan dua kejadian saling bebas, hal ini disebabkan
karena munculnya mata dadu 3 pada dadu pertama tidak terpengaruh
kejadian munculnya mata dadu 5 pada dadu kedua.
S = {(1, 1), (1, 2), (1, 3), ….., (6, 6)} → n(S) = 36
Misalkan kejadian munculnya mata dadu 3 pada dadu pertama adalah A, sehingga:
A = {(3, 1), (3, 2), (3, 3), (3, 4), (3, 5), (3, 6)} → n(A) = 6 P(A) = 6/36 = 1/6
Misalkan kejadian munculnya mata dadu 5 pada dadu kedua adalah B, sehingga:
B = {(1, 5), (2, 5), (3, 5), (4, 5), (5, 5), (6, 5)} → n(B) = 6 P(B) = 6/36 = 1/6
P(A∩B) = P(A) × P(B) = 1/6 × 1/6 = 1/36
Sehingga peluang munculnya mata dadu 3 pada dadu pertama dan mata dadu 5
pada dadu kedua adalah 1/36
2.
Terdapat dua buah kotak, Kotak A berisi 5 bola merah dan 3 bola kuning
sedangkan Kotak B berisi 5 bola merah dan 2 bola kuning. Jika akan
diambil sebuah bola secara acak pada masing-masing kotak tersebut.
Tentukan peluang terambilnya bola merah dari kotak A dan terambilnya
bola kuning dari kotak B!
Jawab :
Kotak A
n(S) = 8C1 = 8!/(1!(8-1)!) = 8!/7! =8.7!/7!= 8
Dimisalkan kejadian terambilnya bola merah dari kotak A adalah A, sehingga :
n(A) = 5C1 = 5!/(1!(5-1)!)= 5!/4! = 5, P(A) = n(A)/n(S) = 5/8
Kotak B
n(S) = 7C1 = 7!/(1!(7-1)!) = 7!/6! = 7
Dimisalkan kejadian terambilnya bola kuning dari kotak B adalah B, sehingga :
n(B) = 2C1 = 2!/(1!(2-1)!) =2!/1!= 2, P(B) = n(B)/n(S)= 2/7
Jadi P(A∩B) = P(A) × P(B) = 5/8 × 2/7 = 5/28
PELUANG KEJADIAN BERSYARAT
Jika
diketahui dua buah kejadian A dan B, dua kejadian ini dikatakan
kejadian bersyarat/kejadian yang saling bergantung jika terjadi atau
tidak terjadinya kejadian A akan mempengaruhi terjadi atau tidak
terjadinya kejadian B. Sehingga untuk peluang terjadinya kejadian A
dengan syarat kejadian B telah terjadi dapat dihitung menggunakan rumus :
P(A/B) = P(A∩B)/P(B) dimana P(B) ≠ 0
sedangkan peluang terjadinya kejadian B dengan syarat kejadian A telah terjadi dapat dihitung menggunakan rumus :
P(B/A) = P(A∩B)/P(A) dimana P(A) ≠ 0
contoh :
Terdapat
sebuah kotak berisi 5 bola merah dan 3 bola kuning. Jika akan diambil
sebuah bola secara acak berturut-turut sebanyak dua kali tanpa
pengembalian . Tentukan peluang terambilnya keduanya bola merah!
Penyelesaian:
Misalkan kejadian terambilnya bola merah pada pengambilan pertama adalah A, sehingga :
P(A) = n(A)/n(S)= 5/8
Misalkan kejadian terambilnya bola merah pada pengambilan kedua adalah B, sehingga :
P(B/A) = n(B/A)/n(S) = 4/7
P(A∩B) = P(A) × P(B/A) = 5/8 × 4/7 =5/14